IDEOLOGI PENERJEMAHAN

 A. Definisi Ideologi 

    Secara umum, ideologi dapat diartikan sebagai gagasan, sudut pandang, mitos dan prinsip yang dipercayai kebenarannya oleh kelompok masyarakat. Ideologi juga dapat diartikan sebagai nilai-nilai budaya yang disepakati dan dimiliki oleh kelompok masyarakat dan berfungsi sebagai landasan dalam berpikir dan bertindak.

    Menurut Hatim dan Mason (1997), ideologi adalah kumpulan asumsi, keyakinan, dan nilai yang dimiliki bersama oleh suatu kelompok. Menurut Hoed (2003), ideologi merupakan prinsip yang diyakini kebenarannya dalam suatu komunitas. Sementara itu, menurut Karouby (2008), dalam kajian bahasa dan penerjemahan, ideologi tidak hanya terbatas pada politik, tetapi juga mencakup gagasan yang mengatur kehidupan manusia, meskipun masih sering dipahami secara sempit.

B. Ideologi dalam Penerjemahan    

     Menurut Hoed (2003), ideologi dalam penerjemahan adalah keyakinan tentang benar dan baik dalam menghasilkan terjemahan yang sesuai bagi pembaca bahasa sasaran. Sebagian penerjemah menilai terjemahan yang baik adalah yang mampu menyampaikan pesan dari bahasa sumber secara tepat, tanpa terlalu memperhatikan keberterimaan. Sementara itu, sebagian lainnya berpendapat bahwa terjemahan yang baik adalah yang memiliki keberterimaan tinggi serta sesuai dengan kaidah bahasa dan budaya bahasa sasaran. 

    Penilaian benar atau salah dalam penerjemahan bersifat relatif dan dipengaruhi oleh faktor di luar proses penerjemahan. Penerjemah tidak terlepas dari ideologi yang membentuk pandangannya tentang benar dan salah. Oleh karena itu, kualitas terjemahan ditentukan oleh tujuan dan siapa pembacanya. 

C. Konsep Ideologi Penerjemahan

    Ada dua ideologi dalam penerjemahan yaitu foreignisasi dan domestifikasi.

    1. Ideologi Foreignisasi

    Ideologi foreignisasi sangat berorientasi pada budaya bahasa sumber. Para penerjemahan yang menganut ideologi foreignisasi berupaya untuk mempertahankan apa yang asing dan tidak lazim bagi pembaca sasaran tetapi merupakan hal yang lazim,  unik, dan khas dalam budaya bahasa sumber.

    Dalam ideologi foreignisasi, penerjemah cenderung mengikuti teks sumber dan mempertahankan unsur budaya asing dalam terjemahan. Hal ini terlihat dari penggunaan istilah seperti Mr, Mrs, Mom, dan Dad yang tidak diterjemahkan karena dianggap sudah familiar bagi pembaca Indonesia. Sikap tersebut menunjukkan kecenderungan pada ideologi foreignisasi.

    Contoh lain: When he was nearly thirteen, my brother Bob got his arm badly broken at the elbow. When ithealed, and Bob’s fears of never being able to play football wereas suaged, he was seldom selfcon scious about his injuries. Terjemahan: Ketika hampir berusia tiga belas tahun, tangan abangku, Bob, patah di bagian siku. Setelah sembuh, dan ketakutan Bob bahwa dia tidak akan pernah bisa bermain football menghilang, dia jarang menyadari cederanya.

     Terjemahan ini mempertahankan struktur bahasa sumber dan menggunakan pure borrowing seperti “football” untuk menjaga nuansa budaya asli. Hargfors (2003) menilai foreignisasi penting, terutama bagi anak-anak, karena membantu memahami budaya lain, sehingga terjemahan sebaiknya tetap mempertahankan gaya dan nilai budaya bahasa sumber.     

    2. Ideologi Domestifikasi 

    Dalam ideologi domestifikasi, terjemahan diharapkan terasa alami dan tidak seperti hasil terjemahan. Penerjemah menyesuaikan bahasa agar mudah dipahami pembaca, termasuk menerjemahkan istilah asing seperti Mr, Mrs, Uncle, dan Aunt ke dalam bahasa Indonesia. Tujuannya agar terjemahan lebih berterima dan sesuai dengan budaya bahasa sasaran, tanpa menghadirkan kesan asing. 

    Contoh: For at least ten years now, ‘discourse’ has been a fashionable term. In scientific texts anddebates, it is used indiscriminately, often without being defined. Terjemahan: Selama hampir sepuluh tahun belakangan ini, istilah “wacana” sedang hangat dibicaraka di mana-mana baik dalam perdebatan-perdebatan maupun teks-teks ilmiah, tapi penggunaannya sembarangan saja, bahkan sering tanpa didefinisikan terlebih dahulu. 

    Dalam domestifikasi, terjemahan dibuat seolah-olah seperti karya asli, dengan struktur, gaya, dan kosakata yang akrab bagi pembaca. Contohnya, kata fashionable tidak diterjemahkan secara literal, tetapi disesuaikan menjadi “sedang hangat dibicarakan di mana-mana.” Menurut Nida dan Taber dalam Hoed (2003), terjemahan yang baik adalah yang berterima bagi pembaca, sehingga mereka dianggap mendukung ideologi domestifikasi yang berorientasi pada budaya bahasa sasaran.

D. Kelebihan Ideologi 
    
    1. Kelebihan Ideologi Foreignisasi

        a) Memperkaya pengetahuan pembaca tentang budaya bahasa sumber.
        b) Memberi kesan eksotis dan menarik.
        c) Mengasah imajinasi pembaca.
        d) Membantu memahami budaya bahasa sumber.
        e) Menghadirkan nuansa budaya asli.
        f) Mendukung pembelajaran lintas budaya.

    2. Kelebihan Ideologi Domestifikasi

        a) Terjemahan lebih lancar dan terasa seperti karya asli.
        b) Memberi kesan akrab bagi pembaca.
        c) Lebih praktis tanpa penjelasan panjang.
        d) Mudah dipahami pembaca.
        e) Terasa natural dan komunikatif.
        f) Mendukung asimilasi budaya.

E. Kekurangan Ideologi 

    1. Kekurangan Ideologi Foreignisasi

        a) Kurang praktis karena butuh penjelasan tambahan.
        b) Penjelasan kadang sulit dipahami pembaca.
        c) Terjemahan kurang lancar dibaca.
        d) Istilah terasa asing bagi pembaca.
        e) Bahasa terasa kompleks dan kurang natural.
        f) Berpotensi membawa pengaruh budaya negatif.

    2. Kekurangan Ideologi Domestifikasi

        a) Tidak menambah pengetahuan budaya bahasa sumber.
        b) Berpotensi menimbulkan distorsi makna.
        c) Tidak menghadirkan suasana asli bahasa sumber.
        d) Unsur budaya bahasa sumber memudar.
        e) Membatasi interpretasi pembaca.
        f) Pembaca tidak memperoleh wawasan budaya sumber.

F. Ideologi lain dalam terjemahan

    Ideologi penerjemahan merupakan pandangan dan keyakinan penerjemah yang memengaruhi proses serta hasil terjemahan. Selain itu, terdapat juga ideologi lain yang sering digunakan oleh penerjemah.

    1. Ideologi Gender (Sexism Ideology)

    Dalam penerjemahan, isu seksisme dapat dilihat dari penggunaan bahasa yang mencerminkan perbedaan gender, seperti yang dibahas Lakoff (1975). Secara sosiolinguistik, perempuan sering diasosiasikan dengan sifat lemah dan pasif, sedangkan laki-laki dengan sifat kuat dan aktif, yang merupakan konstruksi budaya, bukan sifat alami. Di negara Barat, kesetaraan gender sudah banyak diperhatikan dengan menghindari istilah seksis, misalnya mengganti policeman menjadi police officer. Sementara di Indonesia, hal ini belum terlalu menonjol dan lebih terlihat dalam penerjemahan ke bahasa Inggris.

   Mengutip contoh dari Machali sebuah teks dapat dilihat dibawah ini. (Tsu) Bila seorang gadis berkenan di hati seorang pemuda, maka ia memberi tahu orang-tuanya untuk melamar pujaan hatinya itu. Orang-tua si jejaka kemudian mengadakan lamaran kepada orang tuasi gadis. Upacara ini disebut mepadik. 

    (TSa 1) When a young girl falls inlove with a young man, then she Informs her parents about themarriage proposal to the idol of her heart. … (TSa 2) If a young girlagrees in her heart tomarry a young man, he informs her parents toof er her his heart. …

    Kedua terjemahan tersebut menunjukkan perbedaan ideologi penerjemah. Pada TSa 1, kata ia diterjemahkan menjadi she, mencerminkan pandangan kesetaraan gender yang membuat tokoh wanita terlihat lebih aktif. Sementara pada TSa 2, penerjemah tetap mempertahankan bahwa ia merujuk pada pemuda, meskipun ditambahkan makna bahwa wanita juga memiliki perasaan. Hal ini menunjukkan bahwa terjemahan dipengaruhi oleh ideologi dan latar budaya penerjemah.

    Contoh tersebut menunjukkan bahwa ideologi kesetaraan gender memengaruhi proses penerjemahan, karena keyakinan dan latar budaya penerjemah tercermin dalam hasil terjemahan. Namun, perubahan tersebut dapat menimbulkan distorsi makna karena pesan asli menjadi berbeda. Ideologi ini juga memengaruhi pilihan kata, struktur, dan gaya bahasa agar lebih sesuai dengan bahasa sasaran.

     2. Ideologi dan politik dalam terjemahan

    Rubel dan Rosman (2003) menyatakan bahwa hierarki, hegemoni, dan dominasi budaya sering tercermin dalam terjemahan, terutama pada masa kolonial dan pascakolonial. Selain itu, Cronin menegaskan bahwa penerjemahan juga dipengaruhi oleh ideologi dan agenda politik budaya sasaran, yang berkaitan dengan kekuasaan dan identitas.

    Pendapat tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara bahasa mayoritas dan minoritas tidak lepas dari isu kekuasaan dan identitas dalam penerjemahan. Ideologi dan kekuasaan negara juga sering tercermin dalam hasil terjemahan, terutama pada teks yang bermuatan politis, Seperti pada penerjemahan teks Autralian Geography yang memiliki unsur politis (Machali, 134). Pada teks sumber berbunyi: When Indonesia annexed the former Portuguese colony East Timor in 1975 many Australians understood this as part of the process decolonization. …

    Tsa 1 Ketika Indonesia mencaplokTimor Timur, bekaskoloni Portugis di tahun 1975 banyak orang Australia yang melihatnya sebagai proses dekolonisasi. Tsa 2 Ketika Timor Timur,sebagai bekas koloni Portugis, berintegrasi dengan Indonesia pada tahun 1975 banyak orang Australia yang menganggapnya sebagai proses dekolonisasi.

  Perubahan makna dari annexed menjadi “berintegrasi” dipengaruhi ideologi politik di Indonesia. Penyesuaian ini dilakukan agar terjemahan dapat diterima, namun berpotensi menyimpang dari makna asli.

    3. Ideologi agama dalam penerjemahan

     Penerjemahan juga dipengaruhi oleh ideologi agama, terutama pada teks yang berkaitan dengan kepercayaan. Teks yang dianggap menyinggung agama sering ditolak, seperti karya Satanic Verses yang tidak diterima di beberapa negara. Dalam penerjemahan teks keagamaan, ideologi domestifikasi sering digunakan agar lebih mudah dipahami pembaca, seperti dalam penerjemahan Alkitab (Nida & Taber). Selain itu, ideologi penerjemah dapat diteliti melalui metode seperti wawancara untuk mengetahui pengaruhnya dalam proses penerjemahan.







      



Komentar

Postingan populer dari blog ini

FUNGSI MENU FILE DAN HOME PADA MICROSOFT WORD

LISANIYYAT

HAKIKAT BAHASA DAN KAJIAN BAHASA DALAM LINTAS SEJARAH