HAKIKAT BAHASA DAN KAJIAN BAHASA DALAM LINTAS SEJARAH
A. Hakikat Bahasa
Menurut Abdul Chaer dan Leonie Agustina, hakikat yang sekaligus menjadi karakterisitik setiap bahasa adalah sebagai berikut:1. Bahasa adalah sistem lambang yang berbentuk bunyi dalam literatur berbahasa Arab
"Abdul
Chaer menjelaskan bahwa bahasa merupakan sebuah sistem, artinya bahasa tersusun dari
sejumlah komponen yang memiliki pola tetap dan dapat dirumuskan dalam kaidah.
2. Bahasa itu unik
2. Bahasa itu unik
Setiap bahasa memiliki karakteristik khas yang tidak
dimiliki oleh bahasa lainnya. Misalnya, dalam bahasa Arab terdapat konsep (إعراب) analisis
fungsi kata dalam kalimat, yang tidak ditemukan dalam bahasa lain. Keunikan ini dapat
muncul di berbagai tingkat linguistik, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan
leksikon.
3. Bahasa itu universal
3. Bahasa itu universal
Di balik keberagaman bahasa di dunia, terdapat kesamaan mendasar yang menunjukkan
sifat universal bahasa. Semua bahasa memiliki struktur dasar yang serupa, seperti kategori
kata dan unsur bunyi. Namun, cara bahasa tersebut menyusun unsur-unsur dasar ini
bisa sangat berbeda-beda. Misalnya, jumlah dan jenis huruf hidup serta huruf mati di setiap
bahasa tidaklah sama.
4. Bahasa itu Arbitrer
4. Bahasa itu Arbitrer
Yaitu sistem simbol yang bersifat sewenang-wenang. Kata-kata dan simbol-simbol lainnya tidak memiliki hubungan intrinsik dengan hal yang mereka wakili. Hubungan
ini terbentuk melalui kesepakatan bersama dalam suatu komunitas bahasa. Sebagai contoh,
tidak ada alasan khusus mengapa kita menggunakan kata "kuda" untuk menyebut binatang
berkaki empat tertentu. Begitu pula, makna simbol-simbol nasional seperti bendera merah
putih hanya dapat dipahami oleh mereka yang mengenal konvensi budaya yang
terkait.
5. Bahasa itu bersifat produktif
5. Bahasa itu bersifat produktif
Salah satu sifat unik bahasa adalah produktivitasnya. Hal ini berarti meskipun unsur
pembentuk bahasa Indonesia terbatas, seperti jumlah huruf dan tipe kalimat, namun
kemampuan kita dalam menciptakan kata dan kalimat baru adalah tidak terbatas. Hal ini
menunjukkan bahwa bahasa memiliki sifat produktif, di mana dari unsur yang terbatas dapat
dihasilkan kombinasi yang sangat beragam.
6. Bahasa itu dinamis/ berubah
6. Bahasa itu dinamis/ berubah
Artinya bahasa ikut berubah sesuai dengan kehidupan dalam masyarakan yang tidak
tetap dan selalu berubah.
7. Bahasa itu bervariasi yang kita gunakan itu sebenarnya berbeda-beda
7. Bahasa itu bervariasi yang kita gunakan itu sebenarnya berbeda-beda
Meskipun kita sama-sama
menggunakan bahasa Indonesia. Perbedaannya bisa karena tempat kita tinggal, pekerjaan kita,
atau bahkan gaya bicara kita masing-masing. Misalnya, orang Jawa di Banyumas punya cara
bicara yang berbeda dengan orang Jawa di Surabaya. Selain itu, bahasa yang kita gunakan
juga bisa berbeda tergantung situasi, formal atau tidak.
8. Bahasa itu manusiawi kemampuan berbahasa adalah ciri khas manusia
8. Bahasa itu manusiawi kemampuan berbahasa adalah ciri khas manusia
Bahasa manusia memiliki struktur
yang rumit, terdiri dari bunyi-bunyi yang memiliki arti tertentu. Hewan mungkin bisa
berkomunikasi, tapi cara mereka berkomunikasi berbeda jauh dengan bahasa
manusia.
B. Sejarah Perkembangan Kajian Bahasa di Barat
1. Kaum Sophis
Kaum Sophis (5 SM) mulai melakukan studi bahasa dengan melakukan penelitian secara empiris dengan menggunakan ukuran-ukuran, dan mereka juga meng klasifikasikan tipe-tipe kalimat berdasarkan makna. Mereka melakukan penelitian bahasa dengan memperhatikan retorika, atau cara para cendekiawan Yunani menyampaikan ceramah. Tokoh yang populer dari Kaum Sophis adalah Protagoras dan Georgias.
2. Plato
Plato (429-347 SM) memberikan sumbangan pada ilmu bahasa dalam bukunya yang berjudul Dialoog. la menyatakan bahwa bahasa merupakan hasil pikiran manusia yang terdiri dari onoma dan rhemata. Onoma yaitu kata benda, nama, dan subjek, sedangkan rhemata adalah ucapan sehari-hari, verba, dan predikat. Dalam bukunya juga dibahas mengenai perbedaan antara sifat bahasa yang alamiah dan konvensional.
3. Pasca Plato
Pasca Plato, muridnya Aristoteles (384-322 SM) juga ikut memberikan sumbangsih dalam ilmu bahasa, di antaranya yaitu ia menambahkan elemen bahasa yang dinyatakan Plato dengan antar lain Onoma, Rhemata, dan Syndesmoi atau preposisi dan konjungsi. Selain itu, ditambahkan pula mengenai Legein bunyi tak bermakna, dan prophetal atau bunyi bermakna, dan kelamin kata (gender).
4. Kaum Stoik
Kaum Stoik (4 SM), menambahkan elemen bahasa menjadi onoma, rhemata, syndesmoi, dan arthoron, yang artinya adverbial kuantitas. Selain itu, mereka juga meletekkan dasar komponen utama dalam studi bahasa di antaranya mengenai simbol, makna, dan konteks, yaitu sesuatu yang di luar bahasa. Mereka juga lah yang pertama kali mengenalkan kata kerja pasif dan aktif.
5. Zaman Romawi
Studi bahasa pada zaman Romawi banyak terpengaruh dari zaman Yunani. Tokoh penting dalam perkembangan bahasa pada zaman ini adalah Varro, yang mengeluarkan buku De Lingua Latina setebal 25 jilid dan Priscia 18 jilid. Kedua buku menjelaskan mengenai etimologi (asal mula kata), morfologi, dan sintaksis. Selanjutnya buku ini menjadi tonggak utama perkembangan - linguistik tradisional Eropa.
6. Zaman Renaisans
Zaman renaisans merupakan pembukaan bagi abad pemikiran modern dalam studi linguistik. Hal itu dikarenakan pada zaman ini banyak sarjana yang menguasai bahasa Yunani, Ibrani, Latin, dan Arab Selain itu, mereka juga mengkaji, menyusun, dan membuat perbandingan terhadap bahasa-bahasa tersebut.
C. Sejarah Perkembangan Kajian Bahasa di Arab
1. Teori Tawqif (Penetapan) (التوقيف)
نظرية التوقيف : وتذهب إلى أن اللغة وحي من عند الله
Teori at-Tawqīf (penetapan): berpendapat bahwa bahasa adalah wahyu yang datang dari Allah. Teori ini dikemukakan oleh Ibnu Fāris dan banyak tokoh lainnya. Dalil yang mereka gunakan adalah dalil naqli (bersumber dari wahyu), bukan dalil akal. Karena mereka bersandar pada firman Allah Ta‘ala. Dalam Perjanjian Lama diceritakan bahwa Allah menciptakan hewan dan burung, lalu membawanya kepada Adam untuk diberi nama, dan nama yang Adam tetapkan menjadi nama makhluk itu.
Ilmu bahasa modern menolak anggapan bahwa bahasa sepenuhnya wahyu langsung. Ayat وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاءَ كُلَّهَا”“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya” lebih dipahami sebagai pemberian kemampuan kepada manusia untuk menciptakan kata-kata, bukan pemberian kata secara jadi. Kisah Adam yang menamai makhluk justru mendukung pandangan bahwa manusia sendiri yang menetapkan nama dengan kemampuan dari Allah. sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Jinni dan banyak ulama lain bahwa Allah memberi kemampuan kepada manusia untuk menetapkan kata-kata.
2. Teori ishtilāh (konvensi/perjanjian) (الِاصْطِلَاحِ)
بِـنَظَرِيَّةِ الِاصْطِلَاحِ، وَتَذْهَبُ إِلَى أَنَّ اللُّغَةَ ابْتُدِعَتْ بِالتَّوَاضُعِ وَالِاتِّفَاقِ
Menurut teori ishtilāh (konvensi/perjanjian), bahasa diciptakan melalui kesepakatan dan saling merendahkan. Pendukung teori ini adalah Ibnu Jinni dan banyak ulama lainnya. Ibnu Jinni berkata:
يَقُولُ ابْنُ جِنِّي: «غَيْرَ أَنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّظَرِ عَلَى أَنَّ أَصْلَ اللُّغَةِ إِنَّمَا هُوَ تَوَاضُعٌ وَاصْطِلَاحٌ، لَا وَحْيٌ وَتَوْقِيفٌ».
“Mayoritas ahli pemikiran berpendapat bahwa asal mula bahasa hanyalah hasil kesepakatan (tawādu’) dan perjanjian (ishtilāh), bukan wahyu atau ketetapan langsung dari Tuhan.” Namun, teori ini tidak memiliki dalil yang bersifat riwayat (naqlī) maupun bukti sejarah, bahkan apa yang ditegaskannya bertentangan dengan hukum-hukum umum yang mengatur sistem sosial. Karena yang kita ketahui dari sistem sosial ini adalah bahwa ia tidak muncul secara tiba-tiba dan tidak diciptakan sekaligus, melainkan terbentuk secara bertahap dengan sendirinya. Selain itu, kesepakatan untuk memberi nama pun dalam banyak aspeknya memerlukan bahasa lisan (suara) agar para pembuat kesepakatan bisa saling memahami. Maka, sesuatu yang oleh para pendukung teori ini dianggap sebagai asal mula bahasa, pada hakikatnya justru bergantung pada adanya bahasa terlebih dahulu.
3. Teori Peniruan Suara Alam atau Teori Bow-wow. ( نَظَرِيَّةُ مُحَاكَاةِ أَصْوَاتِ الطَّبِيعَةِ)
وَتَذْهَبُ إِلَى أَنَّ أَصْلَ اللُّغَةِ مُحَاكَاةُ أَصْوَاتِ الطَّبِيعَةِ
Teori ini berpendapat bahwa asal bahasa adalah peniruan suara-suara alam, seperti suara hewan dan suara fenomena alam, yang timbul ketika peristiwa itu terjadi. Kemudian kata-kata yang menunjukkan peniruan itu berkembang dan meningkat seiring kemajuan akal manusia dan peradaban. Ibnu Jinnī menyinggung pendapat para penganut teori ini dalam kajiannya tentang asal-usul bahasa, lalu berkata:
وَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى أَنَّ أَصْلَ اللُّغَاتِ كُلِّهَا, إِنَّمَا هُوَ مِنَ الأَصْوَاتِ المَسْمُوعَاتِ، كَدَوِيِّ البَحْرِ، وَحَنِينِ الرَّعْدِ، وَخَرِيرِ المَاءِ، وَشَحِيجِ الحِمَارِ، وَنَعِيقِ الغُرَابِ، وَصَهِيلِ الفَرَسِ، وَنَزِيبِ الظَّبْيِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ
“Sebagian orang berpendapat bahwa asal semua bahasa hanyalah dari suara-suara yang terdengar, seperti gemuruh laut, deru guntur, gemericik air, ringkikan keledai, pekikan gagak, ringkikan kuda, rintihan kijang, dan yang semisal itu.
Ibnu Jinni menilai teori ini cukup masuk akal dan bisa diterima. Ia bahkan menulis bab khusus dalam bukunya berjudul: (باب في إمساس الألفاظ أشباه المعاني) “Bab tentang kedekatan bunyi kata dengan makna yang dikandungnya”. Ibnu Jinni menunjukkan contoh nyata kata-kata dalam bahasa Arab yang memang meniru bunyi aslinya, antara lain:
1. الخازباز → nama burung karena suaranya.
2. البَطّ → bebek, dinamai sesuai bunyi khasnya
3. Kata kerja seperti حاجيت، عاعيت، هاهيت → tiruan bunyi huruf tertentu:
حاجيت (ḥājaytu) → tiruan bunyi ح (ḥā’)
عاعيت (‘ā‘aytu) → tiruan bunyi ع (‘ain)
هاهيت (hāhaytu) → tiruan bunyi هـ (hā’)
4. بسملت (basmalah), هيللت (tahlil), حولقت (ḥawqala) → kata-kata yang muncul dari bunyi-bunyi dzikir (bacaan ibadah).
Teori imitasi suara alam ini berpendapat bahwa bahasa muncul dari tiruan bunyi-bunyi alam, seperti suara hewan, air, atau petir. Buktinya: Banyak kata di berbagai bahasa berasal dari bunyi aslinya, misalnya cuckoo (burung) atau kata “mo” untuk kucing di Mesir Kuno dan Cina. Perkembangan bahasa anak juga dimulai dengan meniru suara sekitar. Bahasa suku-suku primitif banyak memiliki kata yang bunyinya mirip dengan suara benda yang dimaksud. Karena itu, sebagian ahli bahasa modern menganggap teori ini paling masuk akal dan sesuai dengan cara alam serta proses perkembangan makhluk hidup.
Kritik utama teori tiruan suara adalah: banyak kata tidak memiliki kemiripan bunyi dengan maknanya. Contohnya ibrīq«إِبْرِيقٍ» (teko), manḍadah «الْمَنْضَدَةِ»(meja), dan kitāb «الْمَنْضَدَةِ» (buku)
semuanya tidak menunjukkan bunyi yang meniru benda tersebut. Hal ini membuat teori ini tidak cukup untuk menjelaskan asal semua kata dalam bahasa.
Kritik lanjutan pada teori tiruan suara menegaskan: Hubungan kata dan bunyi hanyalah asosiasi psikologis, bukan bukti asal mula bahasa. Perkembangan bahasa anak tidak mencerminkan sejarah awal bahasa manusia. Bahasa suku-suku yang dianggap primitif ternyata memiliki sejarah panjang dan struktur kompleks, sehingga tidak bisa dijadikan contoh bahasa yang paling awal.
4. Teori Ding-dong (نظرية Ding dong)
Disebut juga Teori Peniruan Bunyi Makna. Teori ini mirip dengan teori Bow-wow, yaitu bahwa bunyi atau irama kata (geras/صوت) memiliki hubungan langsung dengan maknanya. Artinya, suara kata dianggap bisa mencerminkan sifat atau arti dari benda/hal yang dimaksud Ibnu Jinni sangat menyukai teori ini. Ia bahkan menulis dua bab khusus dalam bukunya:
Bab pertama: “باب في تصاقب الألفاظ لتصاقب المعاني” → Bab tentang kedekatan bunyi kata karena kedekatan makna.
Bab kedua: “باب في إمساس الألفاظ أشباه المعاني” → Bab tentang sentuhan bunyi kata pada kemiripan makna.
Ibnu Jinni menyebut bahwa teori ini telah dibahas oleh ahli bahasa sebelumnya: Al-Khalil dan Sibawaih, dua tokoh besar dalam ilmu bahasa Arab. Contoh Awal Al-Khalil memberi contoh:
قَالَ الخَلِيلُ : كَأَنَّهُمْ تَوَهَّمُوا فِي صَوْتِ الجُنْدُبِ اِسْتِطَالَةً وَمَدًّا فَقَالُوا صَرْ، وَتَوَهَّمُوا فِي صَوْتِ البَازِي تَقْطِيعًا فَقَالُوا : صَرْصَرَ
Seakan-akan mereka membayangkan dalam suara bela lang adanya kepanjangan dan tarikan bunyi, maka mereka berkata: “ṣar” (صَر). Dan mereka membayangkan dalam suara elang adanya potongan-potongan (bunyi yang terputus-putus), maka mereka berkata: “ṣarṣara” (صَرْصَرَ).
Menurut Sibawaih, kata benda dengan pola fu‘lān biasanya mengandung makna gerakan atau gejolak. Contoh:
naqran (النقران) → bunyi ketukan berulang.
ghalayan (الغليان) → air mendidih/bergolak.
ghathayan (الغثيان) → rasa mual, seperti gerakan isi perut.Maksudnya: bunyi kata mengikuti sifat pergerakan yang dimaksud.
Mereka menyesuaikan urutan bunyi huruf dengan urutan gerakan perbuatan yang digambarkan. Jadi, pola suara kata menirukan proses gerak.
Kata empat huruf dengan huruf ganda → makna pengulangan. Semua kata ini meniru suara yang berulang-ulang. Contoh: za‘zah (الزعزعة), qalqalah (القلقلة), ṣalṣalah (الصلصلة), qa‘qa‘ah (القعقعة), ṣa‘ṣa‘ah (الصعصعة), jarjarah (الجرجرة), qarqarah (القرقرة).
Contoh bunyi huruf dalam kata “syadda” (شَدَّ) Huruf syīn (ش): memiliki sifat menyebar, menyerupai bunyi awal tarikan tali sebelum simpulnya kencang. Huruf dāl (د): bunyi lebih kuat/keras, melambangkan pengencangan simpul setelah tarikan. Artinya, perubahan bunyi menunjukkan tahap peristiwa (dari tarikan lembut ke tarikan kuat).
Syekh Shubhi Shalih sangat tertarik pada teori ini. Dalam bukunya Dirasat fi Fiqh al-Lughah, ia menulis bab “Kesesuaian Huruf Arab dengan Maknanya”. Ia menegaskan bahwa penjelasan Ibnu Jinni tentang hubungan alami bunyi dan makna adalah penemuan besar dalam ilmu bahasa.
Teori Ding-Dong memang menarik karena menyoroti hubungan bunyi dan makna, tetapi bukti yang ada menunjukkan bahwa: Kata yang cocok sangat sedikit. Fonem terlalu sedikit untuk melahirkan makna sebanyak itu. Makna fonem tidak konsisten. Perbedaan bahasa di dunia menolak adanya kesesuaian bunyi-makna yang bersifat universal. Dengan kata lain, teori ini tidak mampu menjelaskan asal-usul bahasa secara menyeluruh.
5. Teori bunyi kekaguman emosional, atau teori Pooh-pooh. نظرية الأصوات التعجبية العاطفية، أو نظرية
وتذهب إلى أن اللغة الإنسانية بدأت في صورة تعجبية عاطفية، صدرت عن الإنسان بصورة غريزية للتعبير عن انفعالاته من فرح، أو وجع، أو حزن ، أو استغراب، أو تقزز .. الخ
Teori ini berpendapat bahwa bahasa manusia bermula dalam bentuk seruan emosional, yang keluar dari manusia secara naluriah untuk mengekspresikan perasaannya seperti gembira, sakit, sedih, heran, atau jijik, dan lain-lain. Contohnya: Ketika jengkel, orang berkata “Af” atau “Uuf”, Orang Jerman mengatakan “Pfui”, Bangsa Semit (misalnya Arab) mengucapkan “Way” ketika menyesal. Namun, teori ini ditolak, karena sama seperti teori sebelumnya (teori ekspresi alamiah), tidak mungkin seluruh kosakata bahasa yang begitu banyak hanya berasal dari teriakan atau seruan spontan emosional yang jumlahnya sangat terbatas.
6. Teori respons bunyi terhadap gerakan otot, atau teori yo-he-ho, نظرية الاستجابة الصوتية للحركات العضلية، أو نظرية yo-he-ho
Teori respons bunyi terhadap gerakan otot, atau teori yo-he-ho, yang intinya mengatakan bahwa bahasa manusia bermula dari suku kata alami yang diucapkan manusia secara spontan ketika menggunakan anggota tubuhnya dalam pekerjaan manual. Sebagaimana kita dengar bila kita berdiri dekat seorang pekerja yang menebang pohon atau batu, atau di samping seorang lelaki yang mengangkat beban, atau seorang pandai besi yang sedang bekerja, dan seterusnya.
Teori ini ditolak seperti teori sebelumnya, dan dengan alasan yang sama. Dengan demikian kita melihat bahwa semua teori yang mencoba menjelaskan asal-usul bahasa telah ditolak, karena semuanya hanya menjelaskan sebagian kecil sekali dari bahasa.
Perkembangan manusia dari makhluk bisu jika ungkapan ini benar menjadi makhluk yang berbicara diliputi banyak tirai dan misteri, karena peristiwa itu kembali ke masa yang sangat purba. Dan kita tidak dapat menyingkap tirai itu kecuali dengan perkiraan, imajinasi, dan hal-hal gaib. Namun hal-hal seperti itu ditolak oleh ilmu linguistik modern, karena ilmu ini hanya meneliti apa yang dapat dipastikan oleh data materi yang dapat dirasakan. Karena itulah, La Société de Linguistique (Perhimpunan Linguistik Prancis) membuat aturan untuk melarang penyampaian ceramah tentang topik asal-usul bahasa.
DAFTAR PUSTAKA
Izzanti, D. A., Nasution, M. R., Wasik, H. A., Juanda, M. I., & Nasution, S. (2025). Hakikat Bahasa dalam Objek Kajian Linguistik. Semantik: Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Budaya, 3(1), 188-194.
Al-Azizi, A. V., Ceiin, N., Alwina, L., Nurjanah, P. J., Yuniati, I., & Safitri, W. (2025). Hakikat, Sejarah Perkembangan, Kedudukan, dan Fungsi Bahasa Indonesia. Journal of Literature Review, 1(2), 547-553.
Yaqub, I. (1986). Fiqh al-lughah al-Arabiyah wa-khasa'isuha. Dar al-Ilm lil-Malayin.
Komentar
Posting Komentar