ANALISIS PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA OLEH PENUTUR ASING DI MEDIA SOSIAL
Analisis Penggunaan Bahasa Indonesia oleh
Penutur Asing di Media Sosial
(Natasya Shine)
Natasya Shine dikenal sebagai tiktokers yang tidak
lancar dalam berbicara bahasa Indonesia. Interaksinya dengan sang suami sering
membawa tertawa netizen. Tiktokers asal Rusia ini mengawali kariernya sebagai
model Internasional. Belum diketahui sejak kapan Natasya mengawali kariernya
sebagai model. Namun pekerjaannya ini sudah tidak lagi ditekuninya setelah
menikah dengan Robby Shine pada 2014 lalu. Setelah tidak lagi bekerja sebagai
model, Natasya mulai menggeluti pekerjaan lainnya yaitu sebagai konten kreator.
Natasya yang akrab dipanggil Bagus istri ini diketahui aktif menjadi seorang
konten kreator bahkan akun tiktoknya mencapai 8,8 juta pengikut sedangkan
Instagramnya 11,9 ribu pengikut.
Saat menonton videonya, kami langsung melihat
bahwa cara dia menyusun kalimat cukup unik. Terasa bahwa beberapa ucapannya
masih dipengaruhi bahasa asalnya dan belum sepenuhnya mengikuti pola bahasa
Indonesia. Ia juga sering berhenti sebentar sebelum melanjutkan kata, seolah
sedang memilih kata yang menurutnya paling cocok.
Dalam beberapa videonya, waktu mendengar kalimat:
1. “Hai orang-orang saya dan suami lagi liat
santet (santet = sunset)”. Analisis Kesalahan Bahasa pada Kalimatnya:
1) Kesalahan Fonologis (Pelafalan / Bunyi) Paling Dominan
- Kata “santet” diucapkan / dipahami sebagai “sunset”
- Terjadi penggantian fonem /sɛnset/ → /santet/
- Ada perubahan bunyi /s/ → /t/ di akhir. Hilangnya bunyi /u/ pada suku kata awal
2) Kesalahan Leksikal (Pemilihan Kata)
- Karena “santet” adalah kata yang benar-benar berbeda makna (santet = ilmu hitam), maka termasuk kesalahan
- Leksikal murni, yaitu memilih kata yang salah sehingga makna berubah total
3) Sintaksis (Struktur Kalimat) Ringan
- Struktur “Hai orang-orang saya dan suami lagi liat sunset” sebenarnya sudah bisa dipahami. Hanya saja secara bahasa Indonesia yang lebih natural biasanya: “Hai, orang-orang! Saya dan suami lagi lihat sunset.” Kesalahan sintaksnya tidak berat, hanya kurang tanda jeda dan penempatan subjek kurang jelas
4) Morfologi (normal)
- Tidak ada kesalahan bentuk kata atau imbuhan di bagian lain kalimat
2. “Saya gak tau kenapa makan Dorman saya gak bisa
makan dorman (durian)” Analisis Kesalahan Bahasa pada Kalimatnya:
1) Kesalahan Fonologis (Pelafalan) Paling Dominan
- Yang dimaksud: durian dan yang diucapkan: dorman / dorman. Ini termasuk substitusi fonem, yaitu mengganti bunyi suatu huruf: /u/ diganti menjadi /o/. Akhir kata -rian menjadi -man
2) Kesalahan Leksikal (Pilihan Kata)
- Karena “dorman” bukan kosakata bahasa Indonesia, maka terjadi: Kesalahan leksikal accidental (pemilihan kata tidak sengaja salah akibat pelafalan), makna menjadi tidak jelas
3) Kesalahan Sintaksis (Ringan)
- Kalimatnya berulang dan struktur kurang rapi:
“Saya gak tau kenapa makan dorman saya gak bisa makan dorman.”
- Kesalahan struktur: Dua klausa berdempetan tanpa penghubung. Subjek muncul dua kali tanpa penataan
- Versi yang benar: “Saya gak tahu kenapa, saya gak bisa makan durian.”
4) Morfologi (Tidak ada kesalahan)
- Tidak ada kesalahan terkait imbuhan. Yang salah hanya pada kata dasar “durian”.
3. “Ada di
pirut ada orang suami buat itu semuanya.” Analisis Kesalahan Bahasa pada
Kalimatnya:
1.) Kesalahan Fonologis (Paling Jelas)
- Kata “pirut” kemungkinan besar maksudnya: “perut”. Tetapi pola kesalahannya jelas: Bunyi /e/ → diganti /i/
- Jenis kesalahan: Fonologis (pelafalan salah)
2.) Kesalahan Sintaksis (Struktur Kalimat) dominan
- Kalimat “ada di pirut ada orang suami buat itu semuanya”, bermasalah karena urutan katanya tidak mengikuti S-P-O. Masalah yang muncul: Subjek tidak jelas, “ada di pirut” → tidak jelas siapa atau apa yang ada. Dua klausa ditempel tanpa penghubung, “ada di pirut” “ada orang suami buat itu semuanya”. Seharusnya ada kata hubung seperti yang / karena / lalu. Urutan kata terbalik (typical Russian learner). Dalam bahasa Rusia, urutan kata lebih fleksibel, sehingga muncul pola: Objek dulu → Subjek → Predikat
- Versi yang benar: “Di perut ada sesuatu. Suami
saya yang buat semuanya.”. Atau: “Ada di perut, suami saya yang bikin
semuanya.”
3.) Kesalahan Leksikal (Pilihan kata)
- “pirut” bukan kata bahasa Indonesia → salah
leksikal.“orang suami” tidak natural secara makna. Penutur Indonesia tidak
mengatakan “orang suami”, cukup “suami saya”.
4.) Kesalahan Morfologi (Imbuhan)
- Ada satu: “suami buat” → seharusnya “suami yang buat”. Tidak memakai imbuhan me- (membuat), wajar bagi penutur asing
4. “Udah delapan bulan. ya saya datang untuk
nangis kan (untuk nyanyi)”
1) Kesalahan Fonologis (Pelafalan) Paling Dominan
- Kata “nangis” yang dimaksud adalah “nyanyi”. Ini
terjadi karena penutur asing sering salah membedakan bunyi: /ny/ → berubah
menjadi /ng/. /i/ → berubah menjadi /is/
- Termasuk substitusi fonem, yaitu mengganti bunyi yang mirip. Kategori: Kesalahan Fonologis (pelafalan).
2) Kesalahan Leksikal (Pilihan Kata)
- Karena pelafalan salah, makna kalimat menjadi: “datang untuk nangis”. Padahal maksudnya: “datang untuk nyanyi”
3) Kesalahan Sintaksis (Struktur Kalimat) ringan
- Struktur kalimat hampir benar, hanya sedikit tidak natural: Penggunaan “kan”
5. “Aku
sama dia mantapkan mana?” Jawaban Natasya: “kamu mantap kan woi”
1) Kesalahan Sintaksis (Struktur Kalimat) Paling
Dominan
- Kalimat “kamu mantap kan woi” tidak mengikuti struktur alami bahasa Indonesia
- Masalahnya: Urutan kata tidak natural. Penutur asli biasanya berkata: “Ya kamu lebih mantap, kan?”. “Kamu dong yang mantap, woi.”. Strukturnya seharusnya: Subjek – Predikat – Pelengkap. Tapi Natasya menempatkan “kan” di tengah sehingga struktur menjadi kacau.
2) Kesalahan Leksikal (Pilihan kata) ringan
- “mantap” digunakan sebagai jawaban langsung tanpa penjelasan. Tidak memakai kata hubung seperti “lebih”. Jawaban naturalnya: “Ya kamu lebih mantap.”
3) Kesalahan Pragmatik (Makna konteks)
- Kalimat “kamu mantap kan woi” secara pragmatik terdengar: bercanda, tidak formal menggunakan kata “woi” untuk lucu-lucuan. Bahasa Rusia tidak punya padanan partikel seperti kan / dong / woi, jadi penggunaannya jadi acak.
4) Morfologi (Tidak ada kesalahan)
- Tidak ada imbuhan yang salah. Masalahnya ada pada susunan dan pemilihan kata, bukan pada bentuk kata.
Kesalahan-kesalahan kecil itu malah membuatnya
terasa lebih akrab dengan penonton. Cara bicaranya yang belum sempurna justru
menunjukkan bahwa ia benar-benar sedang belajar bahasa Indonesia sebaik
mungkin. Logatnya yang kuat, pilihan katanya yang kadang salah, dan susunan
kalimat yang belum rapi justru membuat videonya terasa lebih hidup dan menarik
untuk ditonton.
Komentar
Posting Komentar