A. Bangsa Semit dan Geografis Daerah Penyebarannya
Semit merupakan salah satu bahasa dari cabang bahasa
Afro-Asiatik yang paling besar. Melainkan itu, bahasa semit juga merupakan
bahasa yang paling luas di dalam rumpun bahasa dan juga merupakan bahasa yang
pertama sampai kepada umat manusia. Bahasa semit merupakan bahasa yang diturunkan
oleh Sam bin Nuh (Sam merupakan salah satu dari anak nabi Nuh), hal ini
dijelaskan dalam kitab yang bernama kitab Safar Takwin (kitab Kejadian)
yang berisi tentang tiga orang keturunan dari nabi Nuh yakni Ham, Sam, dan
Yafit.
Asal-usul bahasa Semit yang pertama dipercayai berasal dari jazirah Arab, terutama Yaman dan hijaz, lalu berkembang melalui migrasi ke wilayah Asia Barat dan Afrika Utara. Penyebaran Bahasa Semit berkembang di berbagai wilayah, seperti Akkadia di Mesopotamia, Arambi Suriah dan Arab Jazirah Arab. Penggunaan beberapa bahasa Semit mati, seperti Fenisia dan Babilonia. Tetapi bahasa seperti Arab dan Ibrani masih digunakan.
B. Klasifikasi rumpun bahasa Semit
Klasifikasi terhadap bahasa-bahasa di dunia dilakukan
dengan melihat kesamaan ciri yang ada pada setiap bahasa. Bahasa
yang mempunyai ciri-ciri yang sama akan dimasukkan dalam satu
kelompok. Setidaknya ada empat pendekatan yang digunakan dalam
membuat klasifikasi tersebut, yaitu genetis, tipologis, areal, dan
sosiolingustik.
1. Klasifikasi Genetis
Klasifikasi genetis disebut juga klasifikasi geneologis, dilakukan
berdasarkan garis keturunan bahasa-bahasa itu, artinya suatu bahasa
berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Menurut teori
klasifikasi genetis ini, suatu bahasa proto akan pecah dan menurunkan
bahasa baru. Lalu bahasa pecahan ini akan menurunkan pula bahasa
yang lain. Berdasarkan teori ini, bahasa-bahasa di dunia dapat
dikelompokkan menjadi sebelas rumpun, yaitu:
a. Rumpun Indo Eropa, yakni bahasa-bahasa German, Indo-Iran,
Armenia, Baltik Stavik, Roaman, Keltik dan Gaulis.
b. Rumpun Hamito-Semit atau Afro Asia, yakni bahasa-bahasa
Koptis, Berber, Kushid, dan Chad yang termasuk rumpun
bahasa Hamit, Bahasa Arab, Etiopik dan Ibrani.
c. Rumpun Chari Nil, yakni bahasa-bahasa Swahili, Bantuk dan
Khoisan.
d. Rumpun Dravida, yaitu bahasa-bahasa Telugu, Tamil, Kanari
dan Malayalam.
e. Rumpun Austronesia, yaitu bahasa-bahasa Indonesia,
Melanesia, Mikronesia, dan Polinesia.
f. Rumpun Kaukasus
g. Rumpun Fino-Ugris, yaitu bahasa-bahasa Hungar, Lapis, dan
Samoyid
h. Rumpun Paleo Asiatis atau Hiperbolis, yaitu bahasa-bahasa
yang terdapat di Siberia Timur.
i. Rumpun Ural-Altai, yaitu bahasa-bahasa Mongol, Manchu,
Tungu, Turki, Koreadan Jepang.
j. Rumpun Sino-Tibet, yakni bahasa-bahasa Yenisei, Ostyak,
Tibeto, Burma dan Cina.
k. Rumpun bahasa-bahasa Indian, yakni bahasa-bahasa Eskimo,
Aleut, Na-Dene, Algonkin, Hokan, Sioux, Penutio, Aztek-Tanoan
dan sebagainya.
2. Klasifikasi Tipologis
Klasifikasi tipologis ialah klasifikasi yang berdasarkan pada
kesamaan unsur tertentu dalam bahasa, seperti unsur bunyi, unsur
morfem, unsur kata, unsur frase, unsur kalimat dan sebagainya. Klasifikasi tipologis yang telah dilakukan para ahli bahasa dapat bagi
menjadi tiga kelompok, sebagai berikut:
Pertama, yang menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar
klasifikasi. Berdasarkan klasifikasi ini, Fredrich Von Schlegel membagi
bahasa menjadi dua kelompok, yaitu:
a. Bahasa berafik
b. Bahasa berfleksi
Sang kakak, August Von Schlegel membagi bahasa kepada tiga
kelompok sebagai berikut:
a. Bahasa tanpa struktur gramatika
b. Bahasa berafik
c. Bahasa berfleksi
Wilhelm Von Humbol membagi bahasa menjadi empat
kelompok, yakni:
a. Bahasa isolatif
b. Bahasa aglutinatif
c. Bahasa fleksi atau sintesis
d. Bahasa polisintesis
Kedua, yang menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi.
Menurut Franz Bopp, berdasarkan pendekatan ini bahasa dibagi
menjadi tiga kelompok, yaitu:
a. Mempunyai akar kata yang monosilabis.
b. Memiliki akar kata yang mampu mengadakan komposisi.
c. Memiliki akar kata yang silabis dengan tiga komponen.
Sedangan pembagian menurut Max Muller, adalah sebagai
berikut:
a. Bahasa akar,
b. Bahasa terminasional
c. Bahasa infleksional
Ketiga, yang menggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar
klasifikasi.
3. Klasifikasi Areal
Klasifikasi areal dilakukan berdasarkan adanya hubungan
timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di
dalam suatu areal atau wilayah, tanpa memperhatikan apakah
bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak. Klasifikasi ini bersifat
arbitrer karena dalam kontak sejarah bahasa- bahasa itu memberikan
pengaruh timbal balik dalam hal- hal tertentu yang terbatas. Klasifikasi
inipun bersifat non ekhaustik, sebab masih banyak bahasa- bahasa di
dunia ini yang masih bersifat tertutup dalam arti belum menerima
unsur- unsur luar. Selain itu, klasifikasi inipun bersifat non unik, sebab
ada kemungkinan sebuah bahasa dapat masuk dalam kelompok
tertentu dan dapat pula masuk ke dalam kelompok lainnya lagi. Usaha
klasifikasi ini pernah dilakukan oleh Wilhelm Schmidt (1868- 1954)
dalam bukunya Die Sprachfamilien und Sprachenkreise der Ende, yang
dilampiri dengan peta.
4. Klasifikasi Sosiolinguistik
Klasifikasi sosiolinguistik dilakukan berdasarkan hubungan
antara bahasa dengan faktor- faktor yang berlaku dalam masyarakat,
tepatnya berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan
masyarakat terhadap bahasa itu. Klasifikasi sosiolinguistik ini pernah
dilakukan oleh William A. Stuart tahun 1962 yang dapat kita baca
dalam artikelnya “ An Outline of Linguistic Typology for Describing
Multilingualism”. Klasifikasi ini dilakukan berdasarkan empat ciri
atau kriteria, yaitu :
a. historisitas berkenaan dengan sejarah perkembangan bahasa
atau sejarah pemakaian bahasa itu,
b. standardisasi berkenaan dengan statusnya sebagai bahasa baku
atau tidak baku atau statusnya dalam pemakaian formal atau
tidak formal,
c. vitalitas berkenaan dengan apakah bahasa itu mempunyai
penutur yang menggunakannya dalam kegiatan sehari- hari
secara aktif atau tidak,
d. homogenesitas berkenaan dengan apakah leksikon dan tata
bahasa dari bahasa itu diturunkan.
Berdasarkan klasifikasi genetis di atas, bahasa Arab merupakan
bahasa yang termasuk dalam rumpun bahasa Hamito-Semit atau
Afro Asia yang merupakan salah satu rumpun bahasa besar juga yang
namanya tercatat sebagai rumpun bahasa dengan banyaknya penutur
asli menempati peringkat ke-4 dibawah Indo-Eropa, Sino-Tibet,
dan Niger-Kordofanian. Dan juga menempati peringkat ke-6 dalam
jumlah banyaknya bahasa dalam satu rumpun, yakni berjumlah 374
bahasa. Bahasa Afro-Asiatik yang terbesar adalah bahasa Arab yang
menempati urutan ke-5 dalam banyaknya penutur asli, sejumlah
221 juta lebih penutur asli. Rumpun bahasa Afro-Asiatik ini memiliki
wilayah penyebaran bahasa di sekitar Timur-Tengah dan bagian utara
benua Afrika, dengan cabang terbesar dari rumpun ini adalah cabang
bahasa Semit, yang secara harafiah berarti bahasa anak Sem dari 3
anak Nabi Nuh.
C. Karakteristik bahasa Semit
Karakteristik bahasa Semit harus diketahui, sebab pengetahuan
tentang karakteristik tersebut berarti mengetahui karakteristik bahasa
Arab yang merupakan bahasa yang termasuk rumpun bahasa Semit.
Karakteristik bahasa Semit yang paling penting antara lain adalah
sebagai berikut:
1. Dalam sistem tulisan hanya mengenal huruf-huruf konsonan.
Sedangkan bunyi-bunyi vokal dilambangkan dengan harakat,
yaitu dlammah (u), fathah (a), dan kasrah (i).
2. Adanya kemiripan dalam pembentukan isim dari segi ’adad
dan nau-nya, serta dalam pembentukan fi’il dari segi zaman,
tajarrud dan ziyadah, serta shahih dan ’illat.
3. Sebagian besar kata dasar terdiri dari tiga huruf.
4. Memiliki huruf halaq, yaitu ح dan ع, serta huruf-huruf ithbaq,
.ظ dan , ص, ض, طyaitu
5. Tidak dikenal adanya tarkib mazji kecuali dalam ungkapanungkapan ’adad seperti عشر خمسة. Hal ini berbeda dengan
bahasa-bahasa Aria.
6. Adanya isytiqaq, baik dengan perubahan harakat maupun
dengan penambahan atau pengurangan huruf.
7. Adanya kemiripan dalam penggunaan dlamir serta cara
menyambungkannya dengan isim, fi’il, dan huruf. Begitupula kemiripan dalam penyusunan struktur kalimat dan
pembentukan isim fa’il, isim maf’ul, isim zaman, isim makan,
dan isim alat.
D. Perbedaan Antarbahasa rumpun semit
Adapun perbedaan di antara bahasa Semit dapat dilihat dari beberapa
aspek yaitu sebagai berikut:
a. Aspek Kaidah
1) Memakrifahkan kata, di mana setiap bahasa dalam rumpun bahasa
semit memiliki perbedaan dalam memakrifahkan kata. Bahasa Arab
menggunakanalif lam pada awal isim, Bahasa Ibriya memakai ha pada
awal isim, Bahasa Sabak menggunakan huruf nun pada akhir kata,
Bahasa Armenia menggunakan (ا ) pada akhir kata, Bahasa Syuria dan
bahasa Habsy tidak terdapat cara memakrifahkan secara mutlak.
2) Menentukan tanda jamak. Bahasa Ibriya menggunakan huruf يم
untukmuzakkar dan و dan ت untuk muannats al-salim, Bahasa Arab
menggunakan و dan ن ketika rafa`, ي dan ن ketika nashab dan
khafaduntuk muzakkar, dan ا dan ت untuk muannats al-salim dan bahasa
Armenia menggunakan بين
b. Aspek Fonetik
Dari aspek fonetik perbedaan itu dapat dilihat dalam beberapa
bentuk di antaranya:
1) Bahasa Arab yang memiliki huruf ذ, غ, ظ, dan ض yang tidak terdapat
dalam bahasa Ibriya.
2) Dua fonetik Ibriya yaitu p dan v yang tidak terdapat di dalam bahasa
Arab.
3) Tidak terdapat ع, ق, dan س dalam bahasa Babilonia.
4) Biasanya apabila dalam bahasa Ibriya berbentuk س maka dalam bahasa
Arab dan Habsy berbentuk ش dan sebaliknya.
c. Tata bahasa
Bahasa-bahasa Semit selalu berubah (berinfleksi)
d. Kosakata dan ketepatan
Bahasa-bahasa semit memiliki banyak kosakata, dengan banyak kata untuk
satu objek.
e. Sintaks, gaya dan sastra
Dalam bahasa-bahasa semit sintaks terdiri dari kesederhanaan
artikulasi dan kejelasan persepsi. Dalam bahasa arab kefasihan sering
didefinisikan berdasarkan ketepatan, ketelitian, atau kejelasan.
Keringkasan ungkapan merupakan kebajikan sastra dan memadatkan
pengertian yang luas menjadi beberapa kata yang mudah dipahami dan
dihafal merupakan kekuatan khas dari semua produk semit.
f. Tidak adanya kata gabungan
Bahasa-bahasa semit hampir tidak dijumpai kata gabungan.
E. Manfaat Kajian bahasa Semit dalam kajian bahasa Arab
1) Memahami asal-usul dan perkembangan bahasa arab dari rumpun
Semit.
2) Menjelaskan perubahan Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis dalam
bahasa arab.
3) Membantu kajian linguistik komparatif dan memperdalam ilmu bahasa
Arab.
4) Memudahkan pemahaman teks kuno (Al-qur’an, Taurat, Injil) melalui
perbandingan bahasa .
5) Menunjukkan hubungan erat antarbangsa semit dan pengaruh budaya
bahasa mereka.
REFERENSI
Fahrurrozi, S. (2022). Bahasa Semit Sebagai Asal Muasal Bahasa Arab. Ihya Al-Arabiyah: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Arab, 8(1), 80-90.
Guinea, T. N. BAHASA ARAB DI ANTARA RUMPUN SEMIT. FIQH LUGHAH DAN ILMU LUGHAH, 12.
Buku Fiqih Lugah (PDF)
Video YouTube
Komentar
Posting Komentar