PSIKOLINGUISTIK
A. Definisi Psikolinguistik
B. Tokoh Penggiat Linguistik dan Penggiat Psikologi
1. Ahli Linguistik yang Tertarik pada Psikologi
Beberapa linguis mulai meneliti hubungan antara bahasa dan pikiran, sehingga jadi dasar lahirnya psikolinguistik.
-
Wilhelm von Humboldt (1767–1835)
→ Bahasa menentukan pandangan masyarakat penuturnya.
→ Dipengaruhi rasionalisme (menekankan akal & faktor bawaan).
→ Berbeda dengan empirisme yang menekankan pengamatan dan faktor luar. -
Edward Sapir (1884–1939)
→ Mengaitkan bahasa dan psikologi.
→ Bahasa memengaruhi pikiran manusia.
→ Bersama Whorf, melahirkan teori relativitas bahasa (Sapir–Whorf Hypothesis). -
Leonard Bloomfield (1887–1949)
→ Awalnya menganut mentalisme, lalu beralih ke behaviorisme.
→ Bahasa dianggap sebagai rantai stimulus–respon (S–R).
→ Dasar dari linguistik struktural. Otto Jespersen→ Bahasa adalah simbol dalam otak yang membangkitkan pikiran.→ Menekankan aspek perilaku dalam komunikasi.
-
Ferdinand de Sussure (1858–1913)
→ Memperkenalkan konsep langue (sistem bahasa) dan parole (tuturan).
→ Langue = kajian linguistik, Parole = kajian psikologi.
→ Bahasa bisa dipahami utuh jika linguistik dan psikologi digabungkan.
2. Ahli Psikologi yang Tertarik pada Linguistik
Sebaliknya, banyak psikolog yang tertarik mempelajari bahasa sebagai bagian dari perilaku dan proses mental manusia.
-
John Dewey (1859–1952)
→ Meneliti bahasa anak-anak.
→ Menekankan bahwa makna kata bagi anak harus dipahami dari sudut pandang anak itu sendiri. -
Wilhelm Wundt (1832–1920)
→ Disebut Bapak Psikolinguistik Klasik.
→ Bahasa berasal dari gerak emosional yang tidak sadar.
→ Bahasa punya dua sisi: fisik (bunyi) dan psikis (pikiran). -
Karl Buchler
→ Menambahkan fungsi bahasa: ekspresi, evokasi, representasi, dan koordinasi. -
Edward Titchener
→ Penggagas psikologi introspeksi (meneliti kesadaran manusia). -
John B. Watson (1878–1958)
→ Tokoh utama behaviorisme.
→ Bahasa = perilaku yang bisa diamati (stimulus → respon). -
Weiss
→ Penganut behaviorisme yang masih mengakui peran mental.
→ Bahasa = perilaku fisiologis, sosial, dan mental. -
Pillsbury & Meader
→ Bahasa adalah alat untuk menyampaikan pikiran.
→ Manusia berpikir dulu baru berbicara. -
John B. Caroll
→ Menggabungkan linguistik dan psikologi lewat teori simbolik.
→ Respon bahasa melibatkan simbol yang diartikan dulu sebelum menghasilkan respon.
3. Awal Kolaborasi Linguistik dan Psikologi
2. Tahun 1901, Albert Thumb & Karl Marbe menulis buku psikolinguistik pertama berdasarkan eksperimen.
4. Psikolinguistik Modern
→ Hasilnya: buku “Psycholinguistics: A Survey of Theory and Research Problems” (1954) → awal resmi psikolinguistik modern.
5. Tokoh dan Perkembangan Selanjutnya
2. Eric Lenneberg → Teori bakat biologis berbahasa (bahasa bersifat alamiah & universal).
3. George A. Miller (1965) → Menyatakan psikolinguistik sebagai ilmu baru yang fokus pada proses kognitif bahasa.
6. Periode Perkembangan Psikolinguistik
2. 1960–1970-an: Mentalisme & Kognitivisme (Chomsky, Miller).
3. 1980-an: Pragmatik & Pemerolehan Bahasa Kedua.
4. 1990-an: Pragmatik & Sosiolinguistik.
5. 2000-an ke atas: Integratif (behavioral + kognitif + kepribadian).
C. Pemerolehan Bahasa
Menurut E. Cassirer, bahasa berawal dari ungkapan emosi seperti tangisan bayi, lalu berkembang menjadi alat berpikir dan bersosialisasi. Pemerolehan bahasa berbeda dengan pembelajaran bahasa, karena terjadi secara alamiah tanpa pengajaran formal.
D. Pemerolehan Bahasa Pertama (Bahasa Ibu)
Pemerolehan bahasa pertama adalah proses alami yang terjadi di otak anak saat ia memperoleh bahasa ibu melalui interaksi dengan lingkungannya, berbeda dengan pembelajaran bahasa yang terjadi saat mempelajari bahasa kedua.
Menurut Douglas Brown, anak memperoleh bahasa pertama secara alami tanpa pendidikan formal. Dalam proses ini terdapat dua aspek: 1. Kompetensi, yaitu pengetahuan tidak sadar tentang tata bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, 2. dan semantik).Performansi, yaitu kemampuan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi melalui pemahaman dan pengungkapan kalimat. Chomsky berpendapat bahwa setiap anak memiliki kemampuan bawaan (innate) untuk berbahasa yang disebut kompetensi linguistik, yang memungkinkannya memahami dan menciptakan kalimat baru.
Dardjowidjojo menegaskan bahwa semua anak memiliki strategi pemerolehan bahasa yang sama karena faktor biologis dan mental yang bersifat kodrati. Bahasa yang dikuasai anak ditentukan oleh input dari lingkungan sekitarnya.
Menurut Douglas Brown, anak memperoleh bahasa pertama secara alami tanpa pendidikan formal. Dalam proses ini terdapat dua aspek:
Dardjowidjojo menegaskan bahwa semua anak memiliki strategi pemerolehan bahasa yang sama karena faktor biologis dan mental yang bersifat kodrati. Bahasa yang dikuasai anak ditentukan oleh input dari lingkungan sekitarnya.
E. Proses Pemerolehan Bahasa Pertama
Anak tidak langsung menguasai bahasa ibu secara sempurna, tetapi melalui tahap-tahap perkembangan linguistik yang terjadi secara bertahap dan alami. Para ahli membaginya menjadi beberapa tahap utama:
2. Tahap Satu Kata (Holofrastis) – Sekitar usia 12–18 bulan. Anak mulai mengucapkan satu kata untuk mewakili satu makna, misalnya “mama” atau “mau”.
3. Tahap Dua Kata – Usia 18–20 bulan. Anak menggabungkan dua kata, seperti “mama ikut” atau “makan nana”, dan mulai berpikir dalam pola sederhana “subjek + predikat”.
4. Tahap Ujaran Telegrafis – Usia 2–3 tahun. Anak mulai berbicara dengan kalimat sederhana yang terdiri dari beberapa kata, kosakata bertambah pesat, dan struktur kalimat semakin mirip bahasa orang dewasa.
Proses pemerolehan bahasa ini tidak hanya melalui peniruan atau penguatan dari orang dewasa, tetapi juga karena anak memiliki kemampuan alami membentuk aturan dan tata bahasa sendiri berdasarkan input lingkungannya.
F. Fase-Fase Pemerolehan Bahasa
Para ahli psikolinguistik memiliki pandangan berbeda tentang fase pemerolehan bahasa kedua atau asing, terutama karena faktor lingkungan, usia, dan konteks pembelajaran. Namun secara umum, pemerolehan bahasa berlangsung melalui beberapa fase penting (Al-Ushaili):
2. Fase Produksi Awal (Early Production) — Setelah fase sunyi, pebelajar mulai menggunakan bahasa sederhana. Ia mampu menjawab pertanyaan singkat seperti “iya/tidak” dan mulai membuat kalimat pendek dua atau tiga kata, seperti “buku baru” atau “pulpen hitam.”
3. Fase Pemahaman Kontekstual — Setelah sekitar satu tahun, pebelajar dapat memahami dan menggunakan hingga 3.000 kosakata (kemungkinan salah ketik dari sumber: bukan 300.000). Ia mulai mampu berbicara, membaca, dan memahami kalimat sesuai konteks, meskipun masih membutuhkan bantuan untuk istilah baru.
G. Peran Orang-Orang Terdekat dalam Pemerolehan Bahasa Pertama
2. Lingkungan keluarga, menjadi tempat anak menerima rangsangan bahasa melalui komunikasi sehari-hari.
3. Saudara dan teman sebaya, membantu memperluas kemampuan bahasa anak melalui interaksi sosial.
4. Lingkungan sosial, mendukung perkembangan sosial dan kognitif anak yang berhubungan dengan penguasaan bahasa.
5. Peran peniruan, anak meniru bahasa, ucapan, dan perilaku orang-orang di sekitarnya sebagai bentuk pembelajaran bahasa pertama.
Komentar
Posting Komentar