DIALEK-DIALEK BAHASA ARAB

Bahasa Arab dibagi menjadi dua kelompok utama: Fusha (resmi) dan ‘Ammiyyah (dialek sehari-hari).

     Bahasa Arab Fusha adalah bahasa resmi yang banyak dipergunakan dan dipahami oleh semua orang Arab. Ia dipergunakan dalam forum-forum resmi, bidang (kebudayaan dan ilmu, bahasa puisi dan prosa, surat kabar, serta buku-buku). Bahasa ini berasal dari dialek Quraisy yang dominan. Kemenangan dialek Quraisy menjadi Fusha didukung oleh faktor agama, ekonomi, politik, dan kekayaan bahasa, sehingga menyebar luas, digunakan oleh semua kalangan, dan mengungguli dialek-dialek lain yang disebut ‘Ammiyyah.

      Bahasa Arab ‘ammiyyah merupakan bahasa-bahasa yang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari bukan bahasa dalam forum resmi atau ilmiah. Ia adalah dialek-dialek yang terdapat atau berasal dari bahasa Arab. Dialek-dialek ini adalah ragam bahasa Arab yang memiliki ciri khusus yang berbeda dengan ragam-ragam bahasa Arab lainnya. Namun, semua ragam bahasa itu tetap memiliki ciri umum yang menyatukan semuanya dalam satu bahasa, yaitu bahasa Arab.

A. Pengertian Lahjah "Dialek"

        Secara etimologis, lahjah menurut Ibnu Manẓur dalam Lisan al-‘Arab, bermakna gemar dengan sesuatu, menyanyikan (mengucapkan), dan membiasakannya. Senada dengan itu, al-Munjid menjelaskan bahwa lahjah berarti bahasa manusia yang menjadi karakter dan dibiasakan olehnya. Dialek merupakan ragam bahasa yang lebih disenangi, lebih sering digunakan, dan lebih mudah diucapkan oleh para penutur dalam suatu komunitas bahasa tertentu. Dialek juga menjadi ciri khas individu atau kelompok penutur

       Menurut Iskandary dan ‘Anani, dialek suatu qabilah (suku) adalah bahasa khas suku tersebut yang memiliki perbedaan dalam cara pengucapan, seperti: Tarqiq (menipiskan atau menghaluskan bunyi), Tafkhim (menebalkan bunyi), Tatmim (menyempurnakan bunyi), Tarkhim (memerdukan ucapan), Al-Hamz (menekan bunyi), Talyin (melunakkan bunyi), Sur‘ah (mempercepat ucapan),Buth’ (memelankan ucapan), Washl (hamzah tidak dibaca), Qath‘ (hamzah tetap dibaca), serta adanya atau tidaknya imalah (bacaan antara fathah dan kasrah), dan tekanan suara lainnya.

          Adapun secara terminologi, lahjah ‘dialek’, dalam kamus Longman diartikan sebagai variasi dari sebuah bahasa yang dipergunakan di suatu bagian dari sebuah negara yang variasi itu berbeda dengan variasi-variasi lainnya dari bahasa yang sama dalam sejumlah kata atau gramatikanya. Lebih terperinci lagi, Daud mengartikan bahwa lahjah ‘dialek’ yaitu cara pemakaian bahasa yang berbeda dari cara-cara lainnya di dalam suatu bahasa karena masing-masing memiliki ciri-ciri kebahasaan yang khusus dan tiap-tiap cara ini bersama-sama (bersekutu) juga dalam membentuk ciri-ciri kebahasaan yang bersifat umum.

       Pandangan Daud sejalan dengan Anis, yang menjelaskan bahwa dialek merupakan sekumpulan ciri bahasa yang berkaitan dengan lingkungan tertentu, di mana para penutur dalam lingkungan tersebut memiliki kesamaan dalam penggunaan bahasa. Lingkungan ini hanyalah bagian dari wilayah bahasa yang lebih luas yang mencakup berbagai dialek dengan karakteristik khas masing-masing. Meskipun berbeda, semua dialek itu memiliki kesamaan dalam unsur kebahasaan umum yang membentuk satu bahasa tersendiri dan membedakannya dari bahasa lain.

       Daud mencontohkan perbedaan penggunaan bahasa Arab di berbagai wilayah, seperti Mesir, Sudan, Maroko, dan Teluk. Meskipun berbeda dalam kosakata dan ungkapan, misalnya orang Mesir berkata تليفون dan sedangkan orang Teluk berkata هاتف  , untuk menunjuk alat komunikasi yang sudah dikenal secara umum. Demikian juga orang Mesir berkata,  ما أعرفشٔ  sedangkan orang Saudi berujar,  ما أدرىٔ  , untuk menunjukkan ketidaktahuan.

      Dari berbagai pengertian dialek, baik secara etimologis maupun terminologis, dapat dipahami bahwa dialek dan bahasa memiliki hubungan yang sangat erat. Bahasa bersifat lebih umum, sedangkan dialek merupakan bagian khusus dari bahasa. Satu bahasa dapat mencakup berbagai dialek dengan ciri khas masing-masing, namun semua dialek tersebut tetap memiliki unsur kebahasaan umum yang menyatukannya dalam satu sistem bahasa. 

B. Kemunculan Berbagai Macam Dialek

     Munculnya berbagai dialek dalam satu bahasa disebabkan oleh penyebaran luas bahasa dan banyaknya penutur. Menurut Wafi, ketika suatu bahasa digunakan oleh beragam kelompok dalam wilayah yang luas, kesatuan bahasa itu sulit dipertahankan dan lama-kelamaan akan berkembang menjadi berbagai dialek yang akhirnya bisa menjadi bahasa tersendiri. Selain faktor utama tersebut, terdapat pula faktor lain yang berpengaruh, yaitu:

1. Faktor politik – perpecahan wilayah dan hilangnya kesatuan pemerintahan menyebabkan perbedaan bahasa, sedangkan penetapan bahasa resmi menimbulkan perbedaan antara bahasa fasih (fuṣḥā) dan bahasa sehari-hari (‘āmiyyah).
2. Faktor sosial – perbedaan status, pendidikan, dan pekerjaan menciptakan variasi bahasa antar kelompok masyarakat.
3. Faktor geografis – kondisi daerah seperti desa dan kota memengaruhi bahasa; desa yang terisolasi cenderung lebih mempertahankan bahasanya dibanding kota yang lebih dinamis dan terbuka.
4. Faktor kebudayaan – perkembangan ilmu dan budaya membentuk pola pikir serta gaya bahasa yang berbeda pada masyarakat.

Dengan demikian, keberagaman dialek merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling memengaruhi dalam kehidupan manusia.

C. Sebab-Sebab Perbedaan Dialek

     Harus diakui bahwa perkembangan dialek-dialek dari satu bahasa terjadi melalui proses dan pengaruh yang beragam, sehingga menimbulkan perbedaan antar dialek. Menurut Iskandy dan ‘Anani, perbedaan tersebut disebabkan oleh faktor lingkungan, jarak tempat tinggal, kondisi kehidupan, perbedaan pengalaman, serta cara memahami dan berbicara.

         Sementara itu, Daud menambahkan bahwa perbedaan dialek dalam bahasa Arab juga dipengaruhi oleh keterisolasian antar suku, minimnya sarana komunikasi, serta faktor bawaan seperti gangguan pendengaran atau kesulitan berbicara.

D. Aspek-Aspek Perbedaan Dialek dan Bentuk-Bentuknya

Secara umum, perbedaan dialek muncul dalam empat aspek utama, yaitu suara, makna, kata, dan kaidah (morfologi-sintaksis).

1. Aspek suara – menyangkut cara pengucapan kata, misalnya fenomena imalah (condongan antara fathah dan kasrah), penggantian huruf seperti hamzah menjadi hā’, atau qāf menjadi alif dalam dialek Mesir.
2. Aspek makna – muncul dalam perbedaan sinonim dan antonim, seperti kata السكين dan المدية yang memiliki makna sama namun digunakan di daerah berbeda.
3. Aspek kata – terlihat pada kata-kata khas suatu suku, misalnya المدية (pisau) dari suku Daus, الغبيط (kendaraan perempuan) dari Thai’, dan وثب (melompat) yang berarti duduk dalam dialek Himyar.
4. Aspek kaidah (morfologi dan sintaksis) – meliputi perbedaan dalam pembentukan kata dan pola wazan, seperti: Mendhommahkan ha' pada kata ايهـأ apabila tidak diikuti isim isyārah dalam dialek Bani Asad, seperti ايه ُ الناس ٔ . Di-kasrah-kannya huruf-huruf awal fi'il mudhari' dalam dialek Bahra', seperti يِضْرِب ِ.  Di-ma'rifat-kannya isim dan sifat dengan امٔ sebagai ganti ال dalam dialek Himyar  Waqf padaليس من أمر أمصيام في أمسفر . Perbedaan bentuk jamak seperti jamak الأسير ‘tawanan’ bagi sebagian mereka adalah ٔاأسرى dan sebagian yang lain adalah أسأرى. ha’ ta’nits dengan ta’ (dialek Himyar) seperti هذه أمة menjadi هذه أمت

Selain itu, Iskandary dan ‘Anani menjelaskan bahwa perbedaan antar dialek terjadi melalui berbagai proses kebahasaan, di antaranya:

1. Ibdāl (penggantian huruf) – misalnya م menjadi ب atau sebaliknya. dalam dialek Mazin. Misalnya, مااسمك menjadi بالسمك dan بكر  jadi مكر
2. I’rāb (perbedaan harakat akhir) – seperti di-nashab-kannya khabar ليس seperti bagi orang-orang Hijaz dan di-rafa'-kannya bagi orang-orang Tamim apabila dibarengi dengan ٕإلا , seperti ليس الطبيب إلا السمك
3. Binā’ (perbedaan bentuk kata) – seperti men-sukun-kan huruf ش dalam عشرة  bagi orang Hijaz dan membaris-ataskan dan membawahkannya bagi orang Tamim; membaca rafa' هاء nya ياأيها bagi Bani Malik dari Bani Asad apabila tidak diikuti isim isyarah, seperti ياأيه الناس Membaca fathah dan menyambungnya dengan alif bagi selain mereka seperti ياأيها الناس
4. Ketidakmenentuan antara i’rāb dan binā’ – seperti pada kata لَدُن. bagi Qais bin Tsa'labah dan bina'-nya bagi selain mereka.
5. Tashhīh dan i’lāl – perubahan bunyi seperti بقى menjadi بقا atau العلى menjadi العلاء.
6. Itmām dan naqs – seperti membuang nūn dari min huruf jarr bagi Khas'am dan Zubaid apabila diikuti sukun, dan membiarkannya bagi selainnya, seperti penghilangan huruf seperti من البيت menjadi م البيت. Hal ini merupakan fenomena bahasa yang sudah umum di Mesir.
7. Idghām dan fakk – melebur atau memisahkan dua huruf yang serupa. Fakk terjadi pada fi‘il mudhāri‘ yang dijazm dengan dua sukun dan juga pada fi‘il amr di kalangan orang Hijaz, seperti إن يغضض طرفه فاغض طرفك Sementara itu, orang Tanīn justru meleburkannya (melakukan idghām) seperti إن يغض طرفه فاغض طرفك
8. Tarāduf (sinonim) – misalnya المدية bagi Yaman dan السكين bagi Hijaz untuk makna ‘pisau’.

E. Dialek-Dialek Yang Dianggap Buruk 

     Setiap dialek punya ciri khas yang bisa dilihat dari perbedaan bahasanya. Namun, tidak semua perbedaan itu dianggap baik. Ada beberapa dialek yang dipandang kurang baik atau cacat dalam penggunaannya.
1. 'Aj'ajah dan 'amghamah-nya dialek Qadha'ah. 'Aj'ajah yaitu merubah yā' jadi jīm bila     terletak setelah 'ain, seperti .خرج معج، الراعج .  yang dimaksudkan adalah الراعى خرج معى , dan 'amghamah, yaitu tidak membedakan antara jelas-tidaknya huruf di tengah-tengah kata.
2. Syansyanah dan watm-nya dialek Yaman. Syansyanah yaitu mengubah kāf menjadi syīn, seperti ليبش dan شلمنى dari لبيك و كلمنى  dan watm yaitu mengubah sīn menjadi tā', seperti النات dari الناس.
3. Thumthamaniah-nya dialek Himyar yaitu menjadikan al jadi am seperti طاب أمهواء dalam طاب الهواء
4. Taltalah-nya dialek Bahra' yaitu meng-kasrah-kan huruf- huruf mudhāra'ah dan fahfahah-nya Huzail yaitu merubah hā' menjadi 'ain, seperti   العسن أخو العسين dari  الحسن أخو الحسين 
5. 'An'anah-nya dialek Tamim, yaitu mengganti huruf hamzah yang mengawali sebuah kata menjadi 'ain, seperti عن dari ٔأن atau عمان dari ٔأمان
6. Kasykasyah-nya dialek Asad atau Rabi'ah, yaitu mengganti kāf mukhāthabah menjadi syīn, seperti عليس dari عليك atau menambah syīn setelah kāf yang dibaca kasrah, seperti عليكش dari عليك
7. Wahm-nya dialek Kilab, yaitu meng-kasrah-kan hā' al-gaib bila diikuti mīm jama' selagi tidak ada yā' dan kasrah sebelumnya, seperti منهم و عنهم وبينهم
8. Wakm-nya dialek Rabi'ah Kilab, yaitu meng-kasrah-kan kāf khitāb dalam jama' jika sebelumnya ada yā' atau kasrah, seperti عليكم و بكم 
9. Lakhlakhanah-nya al-Sihr atau Rabi'ah, seperti ما شا الله dari ماشاء الله
10. Qat'ah-nya Thai', yaitu membuang huruf akhir kata, seperti يا أبا الحكا  yang dimaksud adalah يا أبا الحكم
11. Istintha', yaitu menjadikan 'ain yang bersukun menjadi nūn apabila melampaui thā', seperti  أعطى dari ٔأعطى. Hal ini terdapat dalam dialek Sa'ad bin Bakar, Huzail, al-'Azd, Qaisdan al-Anshar.

F. Kemenangan Dialek Quraisy dan Sebab-Sebabnya

       Dialek Quraisy merupakan salah satu dari berbagai dialek dalam bahasa Arab. Sejak dahulu, bangsa Arab terdiri atas banyak suku dengan perbedaan yang disebabkan oleh letak geografis, kondisi sosial, pola pikir, serta sarana kebudayaan. Penyebaran bahasa Arab yang luas membuatnya terpecah menjadi berbagai dialek, berbeda dalam suara, makna, kaidah, dan kosakata.

      Melalui berbagai interaksi seperti perdagangan, perpindahan tempat, musim haji, peperangan, dan pertemuan besar, dialek-dialek Arab saling bercampur. Dari proses ini, dialek Quraisy muncul sebagai dialek yang paling dominan. Dialek ini kemudian menjadi bahasa sastra, agama, politik, dan ekonomi bangsa Arab. Kemenangan dialek Quraisy dipengaruhi oleh beberapa faktor penting:

1. Faktor agama – Suku Quraisy memiliki kedudukan keagamaan tinggi karena mereka penjaga Baitullah yang dianggap suci sejak masa Jahiliah.
2. Faktor ekonomi – Quraisy menguasai perdagangan di Jazirah Arab, melakukan perjalanan dagang ke Yaman dan Syam, serta memiliki kekayaan yang besar.
3. Faktor politik – Pengaruh agama dan ekonomi membuat Quraisy juga berkuasa secara politik atas suku-suku lain.
4Faktor kebahasaan – Dialek Quraisy memiliki kekayaan kosakata yang melimpah, gaya bahasa yang tinggi, struktur yang sempurna, dan mudah diucapkan. Selain itu, interaksi dengan berbagai dialek lain semakin memperkaya bahasanya.

Dengan keunggulan-keunggulan tersebut, dialek Quraisy akhirnya mengalahkan dialek-dialek lain dan menjadi bahasa utama yang digunakan dalam sastra dan agama Islam.

G. Peta Dialek Bahasa Arab

Menurut Wafi , sebelum abad ke-19, kajian mengenai dialek-dialek bahasa Arab masih terbatas pada keterangan singkat dalam kitab gramatika, karya sastra, dan nyanyian kesukuan seperti yang disebutkan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya. Sebagian lainnya diketahui melalui karya sastra berbahasa ‘āmmiyyah dan fuṣḥā, seperti Alfu Lailah wa Lailah.

Daud menambahkan bahwa para ulama terdahulu memang telah memperhatikan perbedaan dialek, terutama yang terdapat dalam Al-Qur’an. Namun, penelitian mereka masih bersifat deskriptif dan belum analitis. Hal ini terlihat dari karya-karya seperti Lughāt al-Qur’ān oleh Abū Zakariyā al-Farrā’, Abū Zaid al-Anṣārī, al-Aṣma‘ī, dan Ibnu Duraid, serta Kitāb al-Lughāt karya Yunus bin Ḥabīb dan ulama lainnya.

Kajian dialek secara ilmiah baru berkembang pada abad ke-19. Para ahli bahasa kemudian mengelompokkan dialek Arab menjadi lima kelompok besar, yaitu:

1. Kelompok Hijaz,Nejd,Yaman, meliputi dialek Hijaz, Nejd, dan Yaman.
2. Kelompok Suriah (Syam), mencakup Suriah, Libanon, Palestina, dan Yordania Timur 
3.Kelompok Irak, mencakup seluruh dialek Arab di Irak kecuali yang bercampur dengan bahasa Kurdi dan Aramiah.
4. Kelompok Mesir, meliputi Mesir dan Sudan 
5. Kelompok Maroko (Maghrib), mencakup Maroko, Aljazair, Tunisia, dan Libya.

Setiap kelompok memiliki banyak cabang dan variasi yang bergantung pada wilayah pemakaiannya. Walaupun perbedaan bunyi, kosakata, dan gramatika cukup besar, kesamaan akar bahasa membuat komunikasi antarpenutur masih memungkinkan.

Dari lima kelompok besar tersebut, dialek Hijaz, Nejd, dan Mesir paling dekat dengan bahasa Arab fuṣḥā, sedangkan dialek Irak dan Maroko paling jauh karena pengaruh bahasa asing seperti Aramiah, Persia, Turki, Kurdi, dan Berber. Adapun dialek masyarakat Badui di berbagai wilayah dianggap paling fasih dan paling mendekati bahasa Arab klasik karena minim pengaruh asing dan kuatnya tradisi lisan mereka.

H. Fungsi Belajar Dialek

1. Menafsirkan problematika/permasalahan bahasa. 
2. Memahami ragam qiroaat Al-Qur’an.
3. Meningkatkan kemampuan komunikasi.
4. Menelusuri sejarah dan perkembangan bahasa Arab.
5. Menjadi dasar penelitian linguistik dan sastra.




REFERENSI
Suaidi, S. (2008). Dialek-Dialek Bahasa Arab. Adabiyyāt: Jurnal Bahasa Dan Sastra7(1), 79-97.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

FUNGSI MENU FILE DAN HOME PADA MICROSOFT WORD

LISANIYYAT

HAKIKAT BAHASA DAN KAJIAN BAHASA DALAM LINTAS SEJARAH