ASAL MUASAL BAHASA ARAB

A. Asal-usul Bahasa Arab

            Bahasa Arab termasuk dalam rumpun bahasa Semit dan memiliki jumlah penutur terbanyak di antara bahasa-bahasa sejenisnya. Istilah “Semit” sendiri dinisbahkan dari nama Sam ibn Nuh, putra Nabi Nuh, yang menjadi nenek moyang berbagai bangsa dan bahasa seperti bangsa Akkadiyah, Kanaan, Etiopia, Arab, dan lainnya. Seiring perjalanan waktu, sebagian besar bahasa dari rumpun Semit punah, dan yang masih bertahan hingga kini adalah bahasa Arab bahasa yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah peradaban manusia, terutama sejak abad ke-6 Masehi.

     Para ahli memperkirakan ada sekitar 3.000 bahasa di dunia, dan yang paling tepat pengelompokannya adalah berdasarkan hubungan kekerabatan yaitu: 1. Rumpun Indo-Eropa → India, Iran, Yunani, Prancis, Spanyol, Portugis, Italia, Rumania, Inggris, Belanda, Jerman, Denmark, Armenia, Albania, dll. 2. Rumpun Semit-Hemit → Semit Utara: Akkadiyah, Babilonia, Kan’an, Aramiah. Semit Selatan: Bahasa Mesir (Mesir kuno & Koptik) bahasa-bahasa Barbar yang dipergunakan penduduk asli Afrika Utara, seperti Tunisia, Aljasair, Maroko, Sahara dan sekitarnya serta bahasa Kusyitik, yaitu bahasa penduduk asli bagian timur Afrika seperti bahasa Somalia, Galla, Bedja, Dankali, Agaw, Afar, Sidama dan lain-lain. 3. Rumpun bahasa Tarania (Tunisia) Turki, Mongolia dan Manmair, Jepang, Cina,Korea, Kaukasia, Sudan,  Melayu Polinesia (termasuk bahasa Indonesia).

         Bahasa Arab dianggap juga sebagai bahasa umat Islam karena Al-Qur’an dan hadis sebagai sumber utama ajaran Islam ditulis dalam bahasa tersebut. Selain itu, berbagai literatur keagamaan juga menggunakan bahasa Arab untuk menyampaikan pesan-pesan Islam. Bahasa Arab yang digunakan sekarang telah melalui proses evolusi panjang dari bentuk kunonya hingga menjadi bahasa Fushah yang digunakan sebagai bahasa resmi dan komunikasi umat Islam.

       Beragam bahasa di dunia sebenarnya berasal dari satu bahasa induk, menandakan bahwa penuturnya pun berasal dari satu keturunan yang kemudian terpisah dan membentuk bangsa serta bahasa masing-masing. Perpisahan itu memunculkan variasi bahasa baru yang berbeda dari asalnya melalui proses panjang. Perkembangan bahasa Arab bermula dari perpindahan salah satu keturunan bangsa Semit ke wilayah Jazirah Arab untuk memperluas kekuasaan, yang kemudian berinteraksi dengan kebudayaan setempat dan melahirkan bentuk bahasa baru yang berbeda dari bahasa asalnya.

         Begitu pula bahasa Arab, yang berawal dari rumpun Semit dan berkembang menjadi bahasa tersendiri setelah melalui perjalanan sejarah, perpindahan bangsa, serta perbedaan dialek dan budaya selama berabad-abad hingga akhirnya terbentuk menjadi bahasa Arab seperti yang dikenal sekarang.

B. Perkembangan Bahasa Arab 

             Penamaan bahasa-bahasa Semit muncul seiring dengan kemunculan bangsa-bangsa keturunan Semit, seperti bangsa Akkadiyah (abad ke-20 SM), Aramiyah (abad ke-9 SM), Ibrani (sebelum abad ke-20 SM), dan Finikiyah (abad ke-12 SM), serta bahasa Arab, Yaman Kuno, dan Habsyi. Bahasa Arab termasuk dalam rumpun Semit dan telah ada sebelum datangnya agama Kristen, meskipun sulit dilacak karena minimnya bukti tertulis akibat tingginya tingkat buta huruf di kalangan bangsa Arab kala itu.

              Bahasa Arab memiliki hubungan yang sangat kuat dengan bahasa Semit selatan (seperti Yaman Kuno dan Habsyi), sedangkan bahasa Semit utara seperti Ibrani lebih banyak mengalami perubahan. Menurut Ali Abd al-Wahid Wafi, bukti tertua tentang bahasa Arab berasal dari prasasti Arab Baidah (sekitar abad I SM) dan Arab Baqiyah (setelah abad V M), sehingga penentuan periode perkembangannya sulit dilakukan.

         Secara tertulis, peninggalan bahasa Arab jauh lebih sedikit dibanding bahasa lain, sehingga periodisasi dan kesusastraannya umumnya dibagi ke dalam beberapa masa: zaman Jahiliyah, masa munculnya Islam, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, masa kemunduran, dan periode modern. Pada masa pra-Islam, perkembangan bahasa Arab terutama diketahui melalui puisi-puisi Jahiliyah yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.

Pembagian bahasa Arab menjadi dua bagian yaitu:

a. Bahasa Arab Baidah

Bahasa Arab Baidah (atau Arabiyah al-Nuqusy) adalah bentuk bahasa Arab kuno yang dikenal melalui prasasti atau tulisan di batu. Bahasa ini digunakan oleh bangsa Arab di utara Hijaz, dekat wilayah Aramiyah, dan terbagi menjadi tiga dialek utama:

  1. Dialek Lihyaniyah – berasal dari suku Lihyan yang tinggal di utara Hijaz beberapa abad sebelum Masehi. Prasastinya diperkirakan berasal dari abad ke-2 SM hingga abad ke-6 M.

  2. Dialek Samudiyah – digunakan oleh suku Samud yang disebut dalam Al-Qur’an dan sejarah kuno. Mereka diperkirakan mendiami wilayah antara Hijaz dan Nejed, dekat Damaskus, dengan prasasti sekitar abad ke-3 hingga ke-4 M.

  3. Dialek Safawiyah – ditemukan di daerah Shafa’ dan Harrah, ditulis sekitar abad ke-3 hingga ke-6 M. Hurufnya mirip dengan huruf Samud dan bisa dibaca dari kiri ke kanan atau sebaliknya.

Ketiga dialek ini berbeda dari bahasa Arab Fushah, namun masih memiliki kedekatan dengan bahasa-bahasa Semit, khususnya Aramiyah. Semua bentuk bahasa Arab Baidah ini kemudian punah akibat dominasi bahasa Arab lainnya yang lebih berkembang.

b. Bahasa Arab Baqiyah

Bahasa Arab Baqiyah adalah bahasa Arab yang masih digunakan dalam karya tulis, sastra, dan komunikasi masyarakat Arab hingga kini. Bahasa ini tumbuh di wilayah Hijaz dan Nejed, lalu menyebar ke berbagai daerah seperti Yaman, Suriah, Irak, Mesir, dan Afrika Utara. Perkembangannya dipengaruhi oleh meluasnya ajaran Islam, karena Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab Baqiyah, sehingga umat Islam berusaha mempelajarinya.

Bahasa ini mampu bertahan karena faktor agama dan politik, sementara bahasa-bahasa serumpunnya punah akibat tidak lagi digunakan. Tiap daerah di jazirah Arab memiliki dialek berbeda — seperti Quraisy, Huzail, Tamim, dan Yaman — namun pada masa Khalifah Utsman bin Affan, dialek Quraisy ditetapkan sebagai standar bacaan Al-Qur’an karena digunakan di Makkah, pusat agama dan pertemuan berbagai kabilah.

Pada masa Bani Umayyah, bahasa Arab menjadi simbol status sosial; kemampuan berbahasa Arab dengan fasih menunjukkan kemuliaan seseorang. Namun pada masa Abbasiyah, pembelajaran bahasa lebih banyak dilakukan di istana, bukan lagi langsung dari bangsa Badui, meskipun bahasa Badui tetap dijadikan rujukan keaslian (fusha).

Kemudian muncul bahasa ‘Ammiyah, hasil campuran antara bahasa Arab dan bahasa setempat. Bahasa ini berkembang pesat pada abad ke-3 dan ke-4 H, bahkan digunakan dalam karya tulis. Menjelang abad ke-5 H, bahasa Arab Fusha mulai terbatas penggunaannya pada bidang agama.

Kemunduran minat belajar bahasa Fusha berlanjut hingga abad ke-6 H, bersamaan dengan masa kekuasaan Saljuk dan serangan Mongolia, kecuali di Mesir, yang kelak menjadi pusat kebangkitan bahasa Arab pada era modern.

Bahasa Arab Fusha yang dikenal sekarang merupakan hasil perpaduan berbagai dialek Arab fasih, seperti Tamim, Ta’i, dan Huzail, bukan semata-mata dialek Quraisy. Bahasa ini menjadi standar karena pengaruh empat faktor utama: agama, politik, ekonomi, dan sosial.

Seiring waktu, ketika peminat bahasa Fusha menurun, bahasa ‘Ammiyah mulai menggantikannya dan tetap digunakan masyarakat Arab modern, meski telah banyak mengalami perubahan akibat percampuran dengan bahasa asing.

REFERENSI

Mubarak, H. (2018). Asal Usul Bahasa Arab. Jurnal Ilmiah Iqra'5(1).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FUNGSI MENU FILE DAN HOME PADA MICROSOFT WORD

LISANIYYAT

HAKIKAT BAHASA DAN KAJIAN BAHASA DALAM LINTAS SEJARAH